Arsip untuk Agustus, 2008

Berani Kerja, berani capek

Agustus 30, 2008

pff, akhirny gw bisa nulis lg. dah 1bln lbih. Agustus, gw ulang taun dan dpet kado berupa kesibukan ruaarrr biasa :D lumayan nyita hati, tenaga, waktu, uang, pff.

bknny gw g bersykur. Fresh graduate, 1 thun kerja, dah dikasih amanah segitu besar. Berat, tapi berhubung gw lmyan suka tntangan en sapa tau ini langkah besar menuju kesuksesan, yo wis, tak embat aja, nothing to lose, msih muda, cri pngalaman dlu lah :D tapi ya gitu, gila, cuape buener. klo g nyambi kuliah si g bkal secape itu, senin sampe sabtu kerja, dengan jam kerja yng mw g mau kdu extend. Seharusnya kerjany g bgtu brat, cuma tnggung jwab yng berat, tp berhubung selama ini sistem dan management yang ada g jlan, terpaksa hrus mlakukan prombakan sistem en sistem mngement. Sbtu mnggu kuliah, mna lgi smester pndek :D duh, maafkan aku syngk, jgnkn untuk kamu, untuk nyuci baju aja hmpir g ada waktu :) nikah yuk, cucianku numpuk nih :D

Bismillah, mudah2n program yng dah tersusun berjalan lancar. ibarat kata pepatah, berakit2 ke hulu, dimakan buaya kemudian :D he he, jgn sampe. dan mudah2n g disikapi dengan intrik2 politik oleh para old gaffer yng ngerasa tersisih, gw dh bersumpah g akan berpolitik dlam level apapun sejak tk.3 kuliah dulu soalna :D

semngat!!! demi khidupan yng lbih baik :D

Posesif?

Agustus 2, 2008

pasangan anda posesif, tentu tidak.. kan dah gw kasih combantrin :D

Standarmu standarku standar kita

Agustus 2, 2008

kenapa terjadi perbedaan pendapat? apa sebenarnya yang berbeda? jalan pikiran setiap orang? kenapa? karena setiap orang punya standar berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan. bener g?

manusia ditempa lingkungan, mulai dari keluarga, pendidikan, kehidupan sosial masyarakat sekitar di tempat dia tumbuh kembang. jadisedikit banyaknya kepribadian dan cara pandang seseorang akan terpengaruh oleh lingkungannya.

contoh, seorang yang tinggal di daerah dimana santri semua akan beda cara pandangnya menyikapi pergaulan bebas dengan orang yang telah terbiasa hidup di kota metropolis yang sarat dengan budaya permisif. pihak pertama akan mengutuk habis2n, karena standar tinggi yang dia punya, sedangkan pihakkedua mungkin akan bilang ‘tergantung’, karena standar relativitas yang dia punya.

jangan dibahas dulu mana yang salah, karena komen yang medebatkan pendapat diatas hanya akan memperjelas bahwa tiap orang punya standar yang bebeda terhadap segaa sesuatunya.

Mungkin saat kita masih hidup dalam suatu komunitas, konflik pendapat akan sangat minim dikarenakan dibentuk oleh lingkungan dan kondisi yang tidak jauh berbeda, akan tetapi saat kita mencemplunglan diri dalam dunia yang lebih heterogen seperti dunia kerja, kampus, dsb, maka akan sering kita menemukan hal2 yang kita rasa bertentangan dengan standar yang kita punya.

Jika lo pernah terlibat dalam aktifitas kampus atau organisasi, pasti sering menemukan konflik skala minor ataupun major dengan sesama aktifis. Dalam sebuah rapat, diskusi, ataupun sekedar obrolan ngalor ngidul. Juga dalam lingkungan kerja. Walaupun visi dalam sebuah organisasi sama, kadang misi yang dipilih berbeda, ya karena itu tadi, standar perorangan yang berbeda.

ada baiknya menurut gw, agar konflik tak membesar, diperlukan kemampuan menilai karakteristik, kepentingan dan latar belakang seseorang yang merupakan kunci dari standar yang dia terapkan. dari situ kita bisa menyikapi dengan benar sehingga adu pendapat tidak meruncing, itu hanya dapat terjadi jika kita menyikapi dengan benar.

wawasan yang luas juga dapat membantu, dengan itu kitadapat memahami kondisi, posisi sehingga dapat menentukan toleransi yang dapat diberi tanpa meninggalkan standar yang kita punya, karena bagaimanapun standar itu adalah pada dasarnya prinsip yang kita pegang, dan telah berakar di hati.

gimana? g tau menurut lo semua. (sabtu pagi, bintaro)