Dari padang dengan cinta, wajar, karna dari city tag aja dah Padang Beloved City yang klo diterjemahin dalam bahasa yang mudah dipahami berarti Padang Kota Tercinta
Bukan mentang2 itu tanah kelahiran gw karna gimanapun bkan sifat gw mencintai tanpa alasan. Tapi gw akui faktor historis dan ‘familis’ adalah salahsatu faktor, namun ada hal2 yang membuat gw yakin bahwa ini adalah kota dalam skala khusus dan Sumatra barat sebagai propinsi dalam skala umum adalah sangat pantas untuk dicintai. Kenapa? Sekarang biarkan gw bercerita
Setelah lewat stahun gw g pulang dari merantau di ibukota NKRI, akhirnya kemaren tgl 22 gw menjejakkan kaki lagi di kota ini. Karena gw datang pas berbuka jadiah langsung nuka puasa, magrib, makan buesar dan setelah itu ke masjid untuk isya dan tarawih.
Saat itu setelah tarawih ada muhasabah untuk santri tingkat SD. Santri? iya, ternyata di mesjid deket rumah gw dan kebetulan ketua pengurusnya adalah bokap, sedang berlangsung Pesantren Ramadhan yang ternyata pula juga dilaksanakan secara massal di seluruh Mushalla dan masjid di kota padang karena merupakan program dari pemkot daerah (klo g salah dari propinsi juga). Dan ada insentif buat masjid yang menyelenggrakan dengan peserta lebih dari 50 santri untuk tingkat SD, SMP dan SMA.
Artinya apa bro? ada keseriusan yang teramat sangat dari pemerintah daerah untuk mempertahankan karakter ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’ di bumi minangkabau dengan mengcounter ekses globalisasi terhadap generasi muda. Apalagi mengingat itu hanya saah satu program pemerintah baik di bulan ramadhan maupun diluar ramadhan. jadi bukan sekedar program musiman dalam rangka ‘menyambut ramadhan dan mencari popularitas menjeang pemilu 2009 yang sdang ngetren belakangan ini
Dekadensi moral yang ‘dulu’ pernah heboh di level nasional (dan berkat ke-permisifan kita akhirnya benar2 terjadi) sekarang benar2 disorot di Minangkabau yang menggadang-gadangkan Islam sebagai akar budayanya. Ya.. mo gimana lagi, seperti kita liat di kota besar seperti Jakarta, dah tau sama tau aja y g
Dan g ada cara yang lebih tepat selain memperketat kontrol secara adat dan pembinaan dasar keislaman kepada bibit2 bangsa, calon datuak2 di masa depan, calon intelektual2, pengganti Buya Hamka dan Bung Hatta (yang dengan bangga kami akui sebagai contoh putra daerah yang sangat patut dicontoh).
Bagaimana dengan program pendidikan keilmuan lainnya? tenang, dari dulu sudah bertebaran program2 khusus bahkan bertaraf internasional di sekolah2 negeri di bumi minangkabau yang hasinya benar2 dapat dibanggakan. Sehingga nantinya produk unggulan Sumatra Barat bukan cuma rendang, keripik balado, sanjai, ayam pop, semen, batubara, tapi juga seperti jaman dahulu, menelurkan intelektual yang diakui di taraf nasional dan internasional, plus mereka jga tak hanya pintar secara intelektual namun cerdas secara spiritual (AMiiiiiin) Sampe gw benar2 serius jika nanti punya anak mending gw sekolahin di SumBar
Tag: agama, love, Padang, pendidikan, pesantren